Jumat, 14 November 2008

Telkomsel dan Dikti Gelar Program Sinergi Pendidikan-Dunia Usaha

COOP Telkomsel: Direktur Keuangan Telkomsel Triwahyusari (kedua kanan) didampingi Ketua Bersama Dewan Pengembangan Program Kemitraan (DKKP) Rahardi Ramelan (paling kiri) dan A.A. Nasution (kedua kiri), serta Head of Customer Team Nokia Siemens Networks J.P. Takala (paling kanan) seusai penandatanganan program Cooperative Academic Education Program (COOP) (12/11). Program ini bertujuan untuk meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi dan relevansi pendidikan di perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha, serta menciptakan lulusan sebagai subyek penyedia lapangan kerja (kewirausahaan).

Jakarta, 13 November 2008
Telkomsel bekerjasama dengan DPPK (Dewan Pengembangan Program Kemitraan) Dikti menyelenggarakan program Cooperative Academic Education Program (COOP), yang bertujuan untuk meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi dan relevansi pendidikan di perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha, serta menciptakan lulusan sebagai subyek penyedia lapangan kerja (kewirausahaan).

Program ini merupakan bentuk dukungan Telkomsel pada dunia pendidikan dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), di mana saat ini fenomena jumlah lulusan yang tidak terserap di pasar kerja akan semakin meningkat apabila kurikulum perguruan tinggi tidak dijembatani dengan kebutuhan dunia usaha, terlebih lagi jika lulusan perguruan tinggi tidak siap untuk menciptakan lapangan kerja.

Telkomsel telah memulai program COOP ini, di mana para mahasiswa diberi kesempatan untuk mengenal lebih jauh dunia kerja di Telkomsel dalam kegiatan-kegiatan yang hampir mirip dengan magang. Selain itu, para mahasiswa akan mendapat honor dan kewajiban layaknya karyawan sehingga mereka benar-benar belajar bekerja yang membekali mereka dengan berbagai kemampuan. Peserta COOP ini juga berkewajiban untuk membuat anallisa dan laporan yang nantinya akan dibawa ke institusi pendidikan terkait sebagai dasar penyusunan maupun pengembangan kurikulum.

Dalam kesempatan tersebut, Telkomsel juga berkomitmen mengembangkan program ini melalui kerjasama pengembangan kewirausahaan, dalam hal ini industri telekomunikasi sebagai salah satu industri yang berkembangan sangat pesat di Indonesia. Melalui program COOP yang mengaitkan perusahaan dan industri, diharapkan tidak hanya mempersiapkan mahasiswa untuk bekerja di perusahaan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berusaha/berwirausaha di industri telekomunikasi.

Direktur Keuangan Telkomsel Triwahyusari mengatakan, “Kami sangat bersyukur dan merupakan kehormatan tersendiri untuk dapat kembali berkontribusi mendukung program yang kami harapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia dari mahasiswa untuk menjadi calon entrepreneur di dunia usaha Indonesia.”

“Telkomsel tidak hanya memperhatikan perkembangan dari internal perusahaan, tapi yang penting Telkomsel bertekad mengembangkan dunia usaha di Indonesia yang dimotori sumber daya dari Indonesia sendiri. Kami telah mengembangkan dan meneruskan program ini dengan menggandeng unsur-unsur mitra kerja yang terkait dengan dunia usaha kami, misalnya mitra vendor dan ATPM ponsel,” ungkap Triwahyusari.

Industri telekomunikasi merupakan industri yang secara nyata memberikan kontribusi positif, di mana kontribusi telekomunikasi terhadap Gross Domestic Product (GDP) tahun 2006 saja mencapai 2,89 persen dari total GDP di Indonesia. Belum lagi kontribusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Saat ini industri telekomunikasi mampu merangsang dan menghasilkan manfaat bagi industri atau dunia usaha lain dari hulu sampai hilir, seperti Konten, Musik, Voucher, dan Servis Ponsel.

Hal tersebut tentunya patut didukung dengan kuantitas dan kualitas SDM yang ditunjang kurikulum pendidikan yang relevan, serta SDM yang mampu menciptakan kesempatan-kesempatan baru di industri telekomunikasi. Hal ini juga mengingat arah perkembangannya yang bergerak maju, Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan dengan kondisi geografis negara kepulauan yang luasnya 1,9 juta km persegi dengan angka penetrasi selular masih kecil, sekitar 37 persen dari 240 juta penduduk. Bahkan 63 persen penduduk merupakan usia muda produktif yang merupakan kalangan dengan “senses of technology” yang tinggi dan antusiasme terhadap perkembangan teknologi yang sangat besar.

Ketua Bersama DPPK Rahardi Ramelan mengatakan program ini terkait dengan pilar kebijakan Depdiknas, yakni relevansi pendidikan. Interaksi antara dunia nyata dan dunia pendidikan sangat penting. Tujuannya agar pendidikan menjadi relevan sesuai kebutuhan masyarakat baik dari aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Program ini memberi peluang bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan dunia bisnis dan usaha yang nyata.

Hal senada diungkapkan A.A. Nasution yang juga merupakan Ketua Bersama DPPK, “Program ini akan menghadapkan mahasiswa dengan permasalahan-permasalahan dan tantangan riil di dunia nyata, di mana kepemimpinan akan lahir dari interaksi sosial.”

Tidak ada komentar: